Bisnis Work

Ibu Pekerja vs Ibu Rumah Tangga

Tidak bisa dipungkiri kita selalu ingin menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik bagi orang-orang terkasih kita, nggak ada yang pengen jadi yang terburuk.

Dan di jaman sekarang, nampaknya untuk mendapat label "ibu yang baik" itu susahnya minta ampun, nominasinya banyak, mulai dari ibu bekerja vs ibu rumah tangga, ASI vs susu formula, homeschooling vs sekolah biasa, dan seterusnya dan sebagainya

Sejak pertama kali istilah “perang ibu” tercetus pada sekitar tahun ’80-an hingga sekarang, ketegangan antara para ibu bekerja dan ibu yang memilih untuk tinggal di rumah masih terus terjadi. Bahkan, sepertinya jauh dari kata reda, dengan kata-kata semanis madu tapi tak jarang tuding menuding menjadi ekstrim. 

"Masak Kamu rela nitipin berlian ke pembantu? Tuhan susah payah nitipin anak ke Kamu, Kamu malah nitipin titipan Tuhan ke orang lain." kata si ibu rumah tangga.
"Lha Kamu, ngapain di rumah aja? Hidup kok tergantung orang lain, makan nadah suami apa-apa minta suami, kalo suami tiba-tiba nggak bisa ngasih nafkah, Kamu bisa apa? Apa tuh guna ijazahmu?" kata si ibu bekerja.

"Jadi ibu rumah tangga itu susah, nggak ada liburnya. Yang kerja enak, bisa hahahihi sama temennya, bisa belanja sesuka hati pake gaji sendiri. Yang dirumah cuma dasteran, kerja di dapur." kata si ibu rumah tangga.

"Jadi ibu bekerja itu susah, kami bangun lebih pagi, nyiapin sarapan sebelum ke kantor. Pulang kantor masih ngerjain pekerjaan rumah tangga, nemenin anak ngerjain PR, ngladenin suami,  24 jam bagi kami rasanya kurang." kata si ibu bekerja.

Ketika seorang ibu melakukan hal yang berbeda dari kebiasaan yang ibu kebanyakan lakukan, orang akan berkomentar. Perasaan gelisah lalu biasanya hadir sebagai dampak dari perbedaan tadi. Kegelisahan sebenarnya mungkin adalah bentuk pembelaan terhadap pilihan yang kita ambil. Akan tetapi, menjadi hal yang salah saat perasaan itu kemudian berubah menjadi dorongan untuk menjatuhkan seseorang yang telah mengambil pilihan yang berbeda.

Apa Anda pernah mendengar komentar seperti ini: “Setiap hari kerja. Pulang malam. Apa nggak kasihan dengan anak? Nggak pedulian banget,” ujar seorang ibu rumah tangga melihat tetangganya yang seorang ibu bekerja. Sementara ibu bekerja yang merasa digunjingkan merespons dengan jawaban, “Daripada tidak melakukan apa-apa di rumah dan akhirnya cuma menggosipi orang, lebih baik ngantor. Kurang kerjaan, deh.” Dan seterusnya.

Oleh karena itu YouGov melakukan survei terhadap panelis di region Asia-Pasifik mengenai pendapat mereka terhadap ibu pekerja dan ibu rumah tangga.

Hasil survei di Asia, kebanyakan wanita yang berstatus ibu atau istri adalah juga pekerja (60%). Di antara negara-negara yang disurvei Cina (75%) memiliki persentase paling tinggi dari ibu pekerja, sementara persentase paling rendah terdapat di Indonesia (51%).

  • Secara umum, mayoritas responden berpendapat bahwa posisi ibu pekerja sebagai lebih ideal (62%). 
  • Hal tersebut lebih banyak didukung oleh responden wanita (67%).
  • Responden dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi (62%).
  • dan responden dengan pendapatan yang lebih tinggi (60%)
  • Sesuai dengan hasil survei, Ibu Pekerja paling banyak didukung oleh responden di Cina (80%), 
  • dan paling sedikit didukung oleh responden dari Indonesia (52%).

Jika ibu rumah tangga dan ibu pekerja diberikan kesempatan, akankah mereka memilih untuk bertahan dengan peran mereka sekarang?

Menariknya, jumlah ibu rumah tangga yang berpendapat bahwa posisi ibu pekerja sebagai lebih ideal (36%) lebih tinggi daripada ibu pekerja yang berpendapat bahwa posisi ibu rumah tangga sebagai lebih ideal (20%).

Untuk ibu pekerja, hal yang paling mereka sukai dari menjadi ibu pekerja adalah:

  • Bisa membantu keuangan keluarga (69%)
  • Menjadi contoh bekerja keras kepada anak-anak (35%)

Untuk ibu pekerja, hal yang paling tidak mereka sukai dari menjadi ibu pekerja adalah:

  • Tidak bisa mendampingi anak ketika anak sedang sakit (51%)
  • Tidak bisa mendidik anak secara penuh (47%)

Untuk ibu rumah tangga, hal yang paling mereka sukai dari menjadi ibu rumah tangga adalah:

  • Dapat memperhatikan perkembangan anak (64%)
  • Dapat menemani anak dalam berbagai macam kondisi (57%)

Untuk ibu rumah tangga, hal yang paling tidak mereka sukai dari menjadi ibu rumah tangga adalah:

  • Tidak bisa membantu keuangan keluarga (65%)
  • Tidak memiliki karir yang bisa dibanggakan (47%)

Itulah data Polling yang dilakukan YouGov

Lalu, bagaimana cara menjembatani jurang perbedaan antara kedua kubu? Berikut beberapa poin mengenai ibu bekerja dan ibu rumah tangga yang patut kita cerna.

Pada intinya semua ibu itu bekerja menghabiskan waktunya di kantor atau di rumah, memiliki kewajiban. Dan, kewajiban itu harus mereka tuntaskan.


Ibu Pekerja

Sebagian orang memilih bekerja agar keluarganya bisa membayar sewa rumah, sebagian bekerja karena ingin menyekolahkan anaknya di sekolah yang bagus, sementara sebagian lainnya mungkin bekerja hanya agar bisa mengaplikasikan ilmunya dan supaya tetap waras. Meski begitu, bukan berarti para ibu ini tidak memikirkan anak-anak mereka. Banyak dari ibu bekerja yang tetap memiliki ikatan kuat dengan anak-anaknya karena memanfaatkan waktunya bersama anak secara berkualitas, Kalaupun seorang ibu harus bekerja untuk menunjang kebutuhan keluarganya, tidak ada yang salah dengan hal itu.

Ibu Rumah Tangga

Begitu pun ibu di rumah. Keputusannya untuk berada di rumah, tidak ada hubungannya dengan ketidakmampuannya menghadapi dunia kantoran. Banyak ibu rumah tangga yang memiliki kebisaan bahkan titel pendidikan yang tinggi. Pengaturan rumah tangga pun membutuhkan kemampuan yang baik, agar bisa berjalan mulus. Jadi, jangan anggap mereka tidak bisa apa-apa. Sedangkan untuk masalah keuangan Ibu Rumah Tangga dapat bekerja dari rumah menjadi kondisi yang ideal karena dengan begitu kita bisa tetap mengawasi perkembangan anak sambil juga menghasilkan pendapatan, seperti:
  1. Berbisnis Online
  2. Menjalankan Online Shop
  3. Membuka Jasa Les Pelajaran Sekolah
  4. Usaha Catering
  5. Jasa Pembuatan Kue Ulang Tahun dan Anniversary
  6. Usaha Jahit Pakaian

Cobalah saling menyemangati tanpa harus mencampuri atau memaksakan sudut pandang kita kepada pihak yang berlawanan. Ingat, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kalau perlu, nikmatilah pilihan yang kita ambil tanpa perlu repot memikirkan komentar orang lain. Toh, kita yang menjalani hidup ini, ‘kan, bukan mereka? Jadi, jalani saja hidup dengan semangat tinggi, apapun jalan yang Anda pilih!

Bagikan Ke:



Ibu Pekerja vs Ibu Rumah Tangga

Diterbitkan :
Penulis :
Label :



Artikel Terkait

Rekomendasi

0 komentar
Silahkan Berkomentar!

Terbaru